Minat Interior Design Berbasis Anyaman Semakin Tinggi

Interior desain berbasis anyaman

TANGERANG — Tren interior design saat ini memiliki kecenderungan pada model tradisional khas Indonesia berbasis anyaman.

Executive Vice President PT Polymindo Permata, Johan Yang mengatakan perusahaannya adalah salah satu perusahaan yang fokus menghasilkan produk penunjang untuk hunian dan resor dalam bentuk anyaman.

Untuk memfokuskan hal itu, perusahaan pun melakukan pemberdayaan atas sejumlah desa-desa perajin di seluruh Indonesia. Dengan demikian, perusahaan juga bisa mengadopsi sejumlah seni motif dari seluruh Indonesia.

“Kami secara bahan baku menggunakan bantuan dari mesin. Tetapi yang utama kami menganyam pola motif dari tali itu dilakukan oleh perajin, jadi rata-rata produk kami ini handmade,” ungkapnya, Selasa (15/5/2018).

Menurut Johan, konsep anyaman Indonesia ini memiliki keunikan dibandingkan dengan sejumlah seni ukir di belahan dunia lain. Keunikan dari seni Indonesia ini yang mendorong pasar interior design dari Indonesia masih laku di pasar internasional.

“Pokoknya fokus kami adalah pada material yang ramah lingkungan. Ini mudah recycle. Mereka yang di Cina menggunakan metal frame, mereka lebih sulit daur ulang. Kalau kita single material dengan base nontoxic, recycle, durable. Bahan natural itu di Virotech ada natural mineral.”

Dengan memakai bahan dasar dari alam, seperti bambu, dia memastikan daya tahan produk interior ini bisa mencapai lebih dari 20 tahun. Namun, jika sebelum 20 tahun mengalami rusak atau harus diganti. Maka perusahaan akan melakukan recycle. Ada pun life expectation minimal adalah 10 tahun.

“Makanya kami pun memprovide penganya, kami dari berbagai daerah dengan banyak project. Kami yakin, model ini akan berkembang pesat di industri properti ataupun resort,” terang JohanHal ini, Viro membina kerjasama dengan dua desa. Kerjasama ini berangkat dari pemikiran bahwa perusahaan harus dekat dengan lokasi produksi bahan baku. Sehingga fokus produksi saat ini berada di Jawa Barat, dan Bante. Namun tidak tertutup dengan lokasi lain

“Sebab konsep kita mengadopsi kearifan lokal untuk diadopsi ke dunia,” ungkap Johan.

Sebagai informasi, Viro menyediakan lebih banyak produk interior dengan tema tropical resort. Oleh sebab itu, mayoritas pangsa pasar Viro adalah pengusaha resort dan properti dengan mekanisme kerja sama business to business (B to B).

“Viro ini sangat dekat dengan industri pariwisata. Main market kita adalah tropical resort. Itu permanen. Di Indonesia untuk develop ini kita harus bisa menjangkau lebih dari 16.000 pulau,” katanya.

Meskipun begitu, Johan tak menampik bahwa Viro akan mengoptimalisasi penjualan tidak hanya dengan mekanisme B to B, tetapi juga B to C alias Business to Customer. Untuk mencapai hal tersebut, Viro memulai kerjasama dengan ritel dan online shopping.

“Misalnya di Shopee, kita ada develop B to B ada juga develop B to C. Sebab B to C adalah market yang mau kita dorong lebih besar, kami ingin mendorong solusi. Pertumbuhan bisa high double digit untuk B to C,” terang Johan. (bisnis.com)

Komentar ditutup.