Penjualan Apartemen Tekan Kinerja Emiten Properti

JAKARTA—Rendahnya tingkat penjualan apartemen pada kuartal pertama menjadi salah satu faktor penting yang menekan kinerja pendapatan sejumlah emiten properti di awal tahun ini.

Penjualan apartemen sejumlah emiten properti cenderung melemah dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Rata-rata nilai penjualan apartemen dari dua belas emiten properti yang dirangkum bisnis menunjukkan penurunan 4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Delapan dari sebelas emiten tersebut menunjukkan penurunan pendapatan penjualan apartemen. Dari kedelapannya, tiga di antaranya turun 100% karena tidak membukukan penjualan sama sekali.

Rendahnya penjualan apartemen menekan kinerja keuangan sejumlah emiten secara total, meski pendapatan dari sektor lainnya sebenarnya cukup baik.

PT Ciputra Development Tbk. (CTRA) misalnya, masih berhasil mencatatkan peningkatan pendapatan berulang dari segmen properti investasi sebesar 10,2%. Demikian pula pendapatan PT Cowell Development Tbk. (COWL) dari lini selain apartemen, seperti penjualan rumah tapak, pendapatan sewa, jasa pelayanan dan jasa lain-lain semuanya meningkat.

Namun, total pendapatan CTRA dan COWL masing-masing turun 2,6% dan 4,7% secara yoy, terutama karena tekanan di penjualan apartemen. Hal yang sama kurang lebih terjadi pula pada PT Intiland Development Tbk. (DILD) atau PT Metropolitan Kentjana Tbk. (MKPI).

Hanya empat emiten yang masih berhasil membukukan peningkatan penjualan apartemen pada awal tahun ini yakni PT Lippo Karawaci Tbk. (LPKR), PT Alam Sutra Realty Tbk. (ASRI), PT Megapolitan Development Tbk. (EMDE) dan PT PP Properti Tbk. (PPRO).

Di antara keempatnya, EMDE mengalami peningkatan paling fantastis, yakni 748%. Namun, secara nilai, penjualan apartemen EMDE relatif kecil yakni hanya Rp21,4 miliar, lebih rendah dibandingkan tiga emiten lainnya.

Indaryanto, Direktur Keuangan PPRO, mengatakan, kinerja penjualan apartemen PPRO relatif stabil karena menyasar segmen menengah yang tingkat permintaannya masih cukup baik dibandingkan segmen atas.

Di sisi lain, bisnis PPRO sendiri selama ini masih fokus pada pengembangan apartemen dan belum menyasar rumah tapak karena terbatasnya cadangan lahan yang dimiliki perseroan. Alhasil, PPRO pun lebih fokus menciptakan keunggulan inovatif dari proyek-proyek apartemennya.

Misalnya, konsep apartemen antinarkoba yang diusung sejumlah proyeknya di Depok, Surabaya dan Malang untuk segmen mahasiswa. Inisiatif tersebut mendapat sambutan positif pasar sehingga berhasil mendorong kinerja penjualan perseroan.

Indaryanto mengaku masih optismistis penjualan apartemen perseroan akan terus meningkat seiring diluncurkannya sejumlah proyek apartemen baru pada kuartal kedua dan ketiga tahun ini.

Ferry Salanto, Associate Director Colliers International Indonesia mengatakan banyak pengembang yang berharap penjualan apartemen kembali pulih karena program pengampunan pajak.

Namun, kenyataannya investasi dana hasil pengampunan pajak belum benar-benar mengalir ke sektor riil, khususnya pada penjualan apartemen.

Di luar itu, kalangan pengembang tampak optimistis memandang prospek tahun ini, terlihat dari target marketing sales sejumlah emiten yang dipatok tumbuh antara 15% hingga 50%.

Alhasil, banyak proyek baru masuk ke pasar. Tercatat tiga proyek selesai dengan pasokan 2.790 unit, sementara enam proyek baru diluncurkan dengan total 5.616 unit pada kuartal pertama 2017 di Jakarta.

Pasokan massif ini justru menekan tingkat penyerapan sebesar 1,3% dibandingkan kuartal sebelumnya menjadi 66,8%. Per kuartal I/2017, tercatat ada 59.017 unit apartemen di Jakarta yang tengah dibangun. Artinya, ada sekitar 19.594 unit apartemen baru yang belum terserap pasar.

“Salah satu tantangan pasar saat ini, terutama untuk sektor apartemen, adalah supply yang cukup banyak. Rata-rata supply setelah 2016 akan lebih banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, ini yang menyebabkan properti terlihat menurun kinerjanya,” katanya belum lama ini.

Di sisi lain, Colliers mencatat pula peningkatan harga apartemen pada kuartal pertama tahun ini hanya 1,4% secara quartal to quartal, dan hanya 4% secara year on year.

Pertumbuhan harga tesebut sejatinya belum cukup menggembirakan bagi pengembang.

Sementara itu, data Badan Pusat Statistik menunjukkan pada April 2017 terjadi inflasi 0,09% month on month (mom), setelah deflasi 0,02% pada bulan sebelumnya.

Inflasi April tersebut berada di atas ekspektasi pasar yaitu 0,05% mom. Secara tahunan, tingkat inflasi Indonesia per April 2017 mencapai 4,17%, di atas ekspektasi pasar 4,10%.

Peningkatan inflasi mendorong fokus masyarakat pada pemenuhan kebuhan pokok pangan dibandingkan aktivitas investasi sektor properti. Rendahnya harga dan turunnya tingkat permintaan secara langsung memukul kinerja keuangan emiten properti.

“Fokus masyarakat masih pada kebutuhan konsumsi pokok, yakni makanan. Kemampuannya belum cukup tinggi untuk bisa menggerakan penjualan properti,” katanya Lucky Bayu Purnomo, Analis Danareksa Sekuritas. (bisnis.com)

Komentar ditutup.