RUMAH SENIMAN : Rumah Jawa Ala Rahayu Supanggah

Sebuah gapura terbuat dari kayu berukir khas Bali berdiri megah di depan rumah Prof Dr Rahayu Supanggah di Dusun Benowo RT 003/RW 008, Ngringo, Jaten, Karanganyar. Gapura bercat hijau muda yang menghadap ke arah matahari terbit itu menjadi pintu gerbang satu-satunya untuk memasuki kompleks rumah tempat tinggal sosok seniman berkelas internasional itu.

Sekilas rumah itu tampak sederhana tapi memiliki karakter Jawa yang kuat. Karakter Jawa terlihat dengan ada bangunan pendapa berbentuk joglo. Tata letak bangunan di kompleks itu tak lazim seperti tata letak rumah adat Jawa. Pendapa yang berfungsi sebagai ruang publik mestinya ditempatkan di depan bangunan utama. Namun, bagi laki-laki yang akrab disapa Panggah itu, posisi pendapa justru diletakkan di samping selatan bangunan utama. Karakter Jawa lain terlihat pada penggunaan ornamen flora, wayang dan batik sebagai motif ukir pada kusen, pintu, jendela dan interiornya.

Di sebelah timur pendapa terdapat kandang kerbau yang dipoles menjadi ruang khusus penyimpanan gamelan. Di sisi barat pendapa pun terdapat bangunan beratap kampung yang memiliki tiga ruang. Masing-masing ruang digunakan untuk kamar pembantu, kamar umum dan garasi. Semua ruang itu memiliki banyak fungsi sesuai kebutuhan. Ketika ada pentas di pendapa, ruang-ruang itu menjadi tempat untuk melihat pertunjukan dan ruang operator.

Sementara, bangunan utama dibangun secara bertahap sejak 1987 dengan model atap rumah kampung. Ada tiga atap berbentuk prisma dengan bagian bubungan dilepa. Di bagian depan bangunan terdapat kanopi yang berfungsi sebagai carport. Bangunan utama itu terdiri atas ruang memanjang di bagian depan. Ruang itu dibagi menjadi dua dengan sebuah gebyok tua sebagai pembatas. Kedua ruang itu berupa ruang tamu dan perpustakaan.

Pendapa rumah dibeli dari Pati. Pendapa tersebut dibuat pada 1792 (Tri Rahayu/JIBI/Solopos)

Di Pendapa rumah dibeli dari Pati. Pendapa tersebut dibuat pada 1792 (Tri Rahayu/JIBI/Solopos)

bagian tengah, terdapat ruang tidur utama dan dua ruang tidur anak yang dipisahkan ruang tengah (dalem). Sedangkan di bagian belakang terdiri atas dapur kotor, dapur bersih dan ruang kerja pribadi. Selain itu, masih ada bangunan di belakang rumah, yakni Balebengong dan tiga kamar yang dibangun seperti indekos. Balebengong merupakan nama bangunan beratap tajuk, berbentuk seperti gazebo atau rumah panggung yang berdiri di atas kolam ikan. Bangunan beratap ijuk itu semula berfungsi sebagai tempat kerja. Seiring dengan bertambahnya usia, Panggah pun tak lagi kuat ketika harus naik turun tangga untuk menggunakan bangunan itu. Ruang kerjanya pindah di ruang yang bersebelahan dengan dapur.

“Rumah ini saya bangun secara bertahap mulai 1987. Bangunan pertama ya rumah utama ini yang menempati tanah 300 m2. Kemudian pada 1992-1993, sepulang dari Jepang, saya membeli tanah di samping seluas 400 m2 yang sekarang untuk pendapa. Di bagian belakang juga ada tambahan tanah sekitar 300 m2. Bagi saya, rumah ini dibangun sedemikian rupa agar saya dan keluarga bisa kerasan dan tentunya nyaman,” ujar Panggah saat dijumpai Espos, Jumat (19/7) siang.

Dinding beberapa ruang di bangunan utama dibuat dengan ekspose batu bata. Hal itu dilakukan Panggah secara tidak sengaja. Anehnya, batu bata yang diekspose itu pun tak di-finishing, tapi dibiarkan alami. “Tukang yang membuat rumah ini cukup bagus dengan pemasangan batu bata yang rapi. Kemudian ada ide, batu batanya diperlihatkan. Hanya di ruang tamu dan ruang tengah yang ekspose batu bata. Beberapa bangunan lain, seperti kandang kerbau dan kamar di luar rumah juga ada yang ekspose batu bata,” tambahnya.

Untuk menghindari sinar matahari masuk ke rumah, Panggah menambahkan tritisan di sekeliling rumah induk dengan penempatan konsol. Sebuah kandang sepasang burung merak setinggi tiga meter sengaja diletakkan di depan kanopi yang dikeliling rerimbunan tanaman hijau juga menjadi penghalau sinar matahari dari arah timur agar tidak langsung masuk rumah. Sirkulasi udara dan pencahayaan diatur sedemikian rupa.

“Untuk pencahayaan saya menggunakan genteng kaca di semua ruangan. Sedangkan untuk sirkulasi udara saya sengaja memasang plafon kayu agak renggang, sehingga udara bisa masuk. Selain itu juga banyak bukaan. Tanpa AC pun sudah terasa nyaman di dalam ruangan. Kalau panas sekali, baru AC dinyalakan,” jelasnya. (tri.rahayu@redaksi.solopos.com)

Komentar ditutup.